Tuesday, May 15, 2012

IMUNISASI DPT




1.      Difteri
Penyakit difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Corynobacterium diphteriae. Ada 3 jenis utama Corynobacterium diphteriae, yaitu gravis, intermedius, dan mitis. Strain gravis menyebabkan suatu penyakit lebih berat daripada strain mitis. Anggapan ini tidak tepat karena baik strain gravis, intermedius, dan mitis dapat juga lebih toksik karena strain-strain ini mengandung faga toksigenik. Ada kalanya pula ketiga strain ini tidak bersifat toksik karena tidak mengandung faga toksigenik
Adapun gejala dari penyakit difteri antara lain demam, sakit tenggorokan, serta pembengkakan amandel (tonsil). Terlihat eksudat dari tonsil, faring atau hidung berupa selaput putih kotor yang makin lama makin membesar dan menutup jalan napas. Racun difteri juga dapat merusak miokardium sehingga menyebabkan gagal jantung.
Pada umumnya Corynobacterium diphteriae dapat menular melalui udara (batuk/bersin). Selain itu bisa juga melalui benda atau makanan yang terkontaminasi bakteri tersebut.
Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi bersamaan dengan pertusis dan tetanus, sebanyak tiga kali sejak berusia dua bulan dengan selang waktu penyuntikan 1-2 bulan. Pemberian imunisasi akan memberikan kekebalan aktif terhadap basil difteri, pertusis, dan tetanus.
2.      Pertusis (Batuk Rejan)
Pertusis bersal dari kata “per” artinya sangat besar dan “tussis” artinya batuk. Pertusis adalah infeksi bakteri oleh saluran pernapasan yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernapasan melengking.
Batuk rejan disebabkan oleh infeksi bakteri anatara lain: Haemophillus pertussis, Bordetella pertussis. Selain itu ada spesies lain Bordettella parapertussis. Spesies ini mungkin spesies terpisah atau mungkin suatu strain nontoksigenik dari B.pertussis.
Mulainya penyakit, biasanya muncul sebagai pilek tanpa demam yang berlanjut dengan suatu peningkatan batuk yang hebat. Biasanya batuk dimulai pada malam hari, kemudian pada siang hari dengan frekuensi 20x atau lebih dalam 24 jam. Adanya lendir pada saluran pernapasan membuat dorongan untuk mengeluarkan lendir tersebut hingga diikuti dengan ”rejan” yang khas dari penyakit ini dan disertai muntah.
Komplikasi dari batuk rejan ini dapat menyebabkan pneumonia, kejang, dan kerusakan otak bila pertusis berat yang menyerang.
Vaksinasi pertusis berupa bakteri yang nonaktif juga dari sel bakteri utuh. Pemberian vaksin ini disatukan dengan vaksin difteri dan tetanus. Komponen pertusis ini yang dapat memberi efek samping berupa panas pada daerah suntikan dan demam.
3.      Tetanus
Tetanus adalah infeksi bakteri yang menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang. Hal ini diakibatkan oleh kerja toksin yang dhasilkan oleh bakteri tetanus (Clostridium tetani) pada susunan saraf. Bila luka dikontaminasi spora Cl.tetani maka mereka berkembang biak dalam suatu lingkungan anaerob dan bentuk vegetatif basil ini menghasilkan susunan saraf dengan menaiki akson saraf. Perkembangan spora terutama terjadi dalam jaringan nekrotik mati yang dibantu oleh garam kalsium dan infeksi piogenik.
Masa inkubasi mungkin berkisar antara 1-5 hari sampai lebih dari 1 bulan sesudah infeksi melalui suatu luka yang biasanya sepele, seperti karena duri, kuku, atau serpihan kayu. Bakteri tetanus memproduksi toksin pada luka dan akan meyebar ke sumsum tulang belakang dan otak, yang menyebabkan rangsangan hebat pada sel saraf dan menimbulkan kontraksi yang hebat (spasme) otot.
Penyakit biasanya dimulai berangsur-angsur dengan kekakuan pada rahang dan otot leher yang tidak nyeri, kemudian menjalar ke punggung. Selajutnya, spasme dari otot rahang (trismus atau 'lockjaw') menjadi demikian berat sehingga mulut tidak bisa dibuka. Alis dan kening menyusut ke atas dan mulut tertarik ke luar membentuk suatu senyum (risus sardonicus). Kemudian, kejang tetani mulai. Kepala tertekuk ke belakang, punggung membentuk busur dan tungkai menjadi sangat kaku. Bentuk kejang ini biasanya mudah dikenal, walaupun pada bayi yang baru lahir lebih menyerupai kejang biasa dan pada anak kecil penarikan leher ke belakang (retraksi) yang biasa diduga meningitis oleh mereka yang belum berpengalaman. Kejang berulang yang nyeri akan melelahkan anak, membuatnya tidak makan dan minum, dan dapat menyebabkan kematian lewat gagl nafas.
Pada bayi tetanus terjadi bila bakteri ini masuk ke dalam tubuh melalui tali pusar bayi baru lahir, atau luka, lecet, dan tukak pada anak yang lebih besar. Jarak antara infeksi dan permulaan sakit (masa inkubasi) bervariasi antara 5 dan 14 hari, atau lebih lama dari itu, pada kasus yang ringan. Makin pendek masa inkubasi makin serius penyakit itu.
Metode pencegahan terbaik adalah dengan imunisasi. Jika terkena tetanus, pengobatan harus dimulai sesegera mungkin dengan pemberian antitoksin, obat-obatan sedatif, dan penisilin.
4.      Imunisasi DPT
Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap penyakit tertentu. Imunisasi DPT bertujuan untuk memberi kekebalan aktif terhadap difteri, pertusis, dan tetanus.
Vaksin diberikan sebagai satu seri yang terdiri dari lima kali suntik, yaitu pada usia dua bulan, empat bulan, enam bulan, 15-18 bulan, dan terakhir saat sebelum sekolah (4-6 tahun). Dianjurkan untuk mendapat vaksin TD (penguat TD) pada usia 10-12 tahun atau paling lambat 5 tahun setelah imunisasi DPT terakhir. Direkomendasikan vaksin TD setiap 10 tahun.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam imunisasi DPT:
a.       Pemberian tiga kali dengan dosis 0,5cc interval empat minggu
b.      Vaksin yang digunakan jangan sampai beku
c.       Sisa vaksin yang sudah dibuka harus dibuang
d.      Penundaan pemberian vaksin jika didapatkan anak sakit panas (demam) dan mempunyai kelainan saraf atau tidak tumbuh secara normal. Hanya diberikan vaksin DT.
Jadwal pemberian:
a.       Vaksinasi dasar
Pada bayi usia 2-11 bulan (3 kali suntikan) dengan nterval 4 minggu secara IM atau SC
b.      Vaksinasi ulang DT
1.      usia 4-6 tahun
- DPT (+) diberikan vaksinasi DT 1x 0,5cc
- DPT (-,±) diberikan vaksinasi DT 2x 0,5cc interval 4 minggu

2.      usia 10-12 tahun
- DPT (+) diberikan vaksinasi DT 1x 0,5cc
            - DPT (-,±) diberikan vaksinasi DT 2x 0,5cc interval 4 minggu
Ket:
+ : lengkap
-  : tidak pernah
± : tidak lengkap
Dosis
Dosis setiap 0,5cc (1 dosis) vaksin ini terdiri dari >30 IU toksoid difteri, .40 IU toksoid tetanus dan 25µg toksoid pertusis, 25µg Filamentous haemagglutin (FHA), dan 8µg Pertactin (PRN).
Tempat penyuntikan
Vaksin DPT diberikan secara IM atau SC pada paha sebelah luar (vastus lateral), lengan atas (musculus deltoideus), dan pada bokong (gluteus maximus).
Pemberian DPT paling baik dilakukan dengan suntikan pada paha sebelah luar.
Efek Samping
a.       Suhu tubuh meningkat (panas) karena pengaruh bakteri pertusis
b.      Reaksi di tempat penyuntikan: nyeri, kemerahan, dan bengkak
c.       Radang
Komplikasi
a.       Demam tinggi 40,5 %
b.      Kejang-kejang dalam 3-7 hari pasca imunisasi
c.       Kejang demam (jika pernah mengalami kekjang sebelumnya)
d.      Syok (kebiruan, pucat, lemah, dan tidak memberi respon)
e.       Reaksi alergi
f.       Kesulitan makan atau gangguan mulut atau tenggorokan
g.      Pingsan dalam 2 hari pertama imunisai
Bila didapatkan komplikasi-komplikasi tersebut konsultasikan ke dokter anak sebelum mendapatkan vaksin lainnya. Angka kejadian komplikasi tersebut kurang dari 1% penyuntikan DPT.
Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan demam bisa diberikan acetaminofen atau ibuprofen (antipiretik). Sedang untuk mengurangi nyeri di tempat penyuntikan bisa dilakukan kompres air hangat atau lebih sering mengerak-gerakkan lengan maupun tungkai.



No comments:

Post a Comment